PEMBATAL KEISLAMAN

Oleh: Ust Muniri


Ada sebagian kalangan dari umat ini berpendapat bahwa Riddah atau yang lebih dikenal dengan kata kata murtad, pernyataan seseorang keluar dari Islam dan pindah agama agama lain merupakan satu satunya pintu penyebab batalnya keislaman seorang muslim. Adapun penyimpangan penyimpangan dari alur pemikiran atau perilaku yang dilakukannnya baik dibidang  aqidah, syari’ah, dan juga muamalah dianggab tidak sedikitpun mengusik keislamannya. Selama ia masih shalat, shoum, haji dan masih merasa dirinya sebagai seorang muslim.

Syirik atau tidak mau mengkafirkan orang yang telah jelas kekafirannya menganggab ada ajaran yang lebih sempurna dari Al Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan menolak, meski hanya sebagaian dari ajaran tersebut, berhukum kepada hukum selain Islam, serta membantu kaum musyrikin untuk melawan dan memerangi Islam dan  mujahahidin yang menegakkan syariat Islam . Adalah merupakan  dari sekian pembatal keislaman yang mengeluarkan pelakunya dari dienul Islam.
Hal hal yang membatalkan kesilaman sangatlah banyak sekali, dan telah disebutkan  oleh para ulama dalam bab hukum murtad , bahwa seorang muslim terkadang keluar dari diennya, disebabkan hal hal dan perkara perkara yang bermacam macam, yang menyebabkan dihalalkan darah dan hartanya  dan ia ke keluar dari Islam

AQWAL SALAF

MUTIARA HIKMAH SALAAFUL UMMAH



Hasan Al Basri RH Berkata:
"Iman bukan sekedar hiasan dan angan angan tetapi apa yang menetap dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan"


Ali bin Abi Thalib RA Berkata:
"Sabar adalah bagian dari iman, yang kedudukannya seperti kepala pada badan. Barang siapa yang tidak mempunya kesabaran, maka tidak sempurna imannya"


Ahmad bin Hambal RH berkata:
"Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan amal (keta'atan) dan berkembang dengan meninggalkan teta'atan"


Hasan Al Basri RH berkata:
"Bukanlah iman itu hanya sekedar untuk hiasan dan angan angan belaka: akan tetapi apa  yang menghunjam dalam sanubari dan dibenarkan oleh amal"

BUAH KEIMANAN

Oleh: Ust Ghaffar.



Bila cahaya iman telah meresap dalam sanubari niscaya akan mendatanmgkan keunikan keunikan dalam aqidah, amal dan akhlak. Maka barang siapa yhang dikaruniai  iman, sesungguhnya ia telah dikaruniai kebaikan yang sangat banyak yang tiada ternilai, Iman akan memberikan pengaruh, buah dan akibat akibat yang terupji baik di dunia maupun di akhirat, diantara buah dari keimanan tersebut adalah:

Kecintaan Allah kepada uhlul Iman.
Firman Allah: "Hai orang orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan sesuatu kaum yang  Allah mencintai mereka dan merekapun mencitaiNya. " (QS Al Maidah:54).

BILAL YANG TEGUH IMAN

Sahabat, Bilal ra adalah diantara tujuh orang yang pertama menzahirkan (menampakan) ke Islaman secara terang terangan mesklipun diancam oleh kafir musrik. Apalagi mengetahui hambanya, bilal telah memeluk Islam, Tuannya menyiksa Bilal dengan memakaikan baju besi dan kemudian dijemur di padang pasir yang sangat panas. Ketika ditanyakan tentang pegangan agamanya, Bilal tetap mengatakan ‘Ahad Ahad! (Allah yang Esa, Yang Esa).’

ISTIQOMAH DI JALAN ALLAH

Oleh: Ust Purwanto



Setiap muslim yang telah berikrar  bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya, Muhammad rasulnya,. Harus senantiasa memahami ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai nilainya dalam kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai nilai tersebut, baik dalam kondisi aman maupun dalam kondisi terancam. Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena umat, kita menyadari bahwa setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam,  mampu mengimplementasikan dalam seluruh sisi kehidupannya. Dan orang yang mampu mengiplementasikannya belum bisa bertahan sesuai dengan yang diharapkan Islam, yaitu komitmen, konsisten dan istiqomah dan memang adjaran-Nya sepanjang perjalanan hidup. Maka Istiqomah dalam memegang tali Islam merupakan kewajiban asasi dan sebuah keniscayaan bagi hamba hamba Allah yang menginginkan khusnul khatimah dan berharap syurga-Nya. Rasulullah SAW bersabda diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

BERIMAN KEPADA HARI KIAMAT

Oleh: Ust Purwanto



Seorang muslim beriman dan percaya bahwa kehidupan di dunia ini akan habis dan mempunyai batas waktu berakhirnya, kemudian akan berganti dengan kehidupan kedua di alam akhirat. Firman Allah SWT: “ Ilahmu adalah Ilah yang satu.maka, bagi orang orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, adalah mereka yang hatinya ingkar (akan keesaan Allah dan Hari Kiamat) sedangkan mereka itu adalah orang orangyang sombong” (QS. An Nahl:22)

Pada saat dan hari itu, Allah yang Mahakuasa akan membangkitkan segenap mahluk ciptaanNya. Semuanya akan dikumpulkan untuk menghadap mahkamah pengadilan yang maha tinggi. Setiap orang diperhitungkan amal perbuatannya, orang yang taat dan shaleh, pasti menerima pahala kebahagiaan dalam kehidupanm jannah yhang penuh kehikmatan abadi. Sedangkan orang orang yang maksiat kepada Allah pasti merasakan siksa yang pedih di dalam jahanam.  Bukti bukti adanya hari kiamat adal;ah berasal dari wahyu (ayat ayat) Allah dan hadits rasul.  Dasar pemahamannya adalah berdasarkan dalil nakli, bukan dalil akli. Sebab hari kiamat adalah sesuatu yang tidak terjangkau panca indra manusia. Oleh karena itu, akal tidak mampu menemukannya, dengan pasti berdasarkan usaha pengindraan terhadap sesuatu. 

ADAKAH BID'AH HASANAH


Oleh: Ust Muniri S.Pd.I


Istilah bid’ah Hasnah, sampai saat ini masih menjadi polemic dikalangan kaum muslimin, sebagian mereka menerima istilahini dan sebagian lagi menolaknya dengan berprinsip- bahwa setiap bid’ah adalah sesat. Sementar orang yang menerima adanya bid’ah Hasanah berdalih bahwa bid’ah itu dilakukan dalam rangka beribadah dan taqarub kepada Allah. Selain itu mereka juga punya beberapa argument diantaranya:

Ungkapan Umar Radhiallahu anhu: “Inilah sebaik baiknya bid’ah”, ketika mendapati kaum muslimin berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. Sabda Rasulullah SAW: “ Sejelek jeleknya perkara adalah diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR Muslim no 867). Makna yang benar dari hadits ini bisa dilihat dalam penjelasan selanjutnya. Jika setiap hal yang baru (bid’ah) adalah sesat, maka berarti maka kemajuan teknologi komunikasi dan sejenisnya dilaang karena tidak ada pada jaman Rasulullah SAW. Inilah diantara al;asan alas an yang sering digunakan oleh mereka yang menerima adanya bid’ah hasanah.

CARA MEMAHAMI NASH AL QUR'AN

Oleh: Ust Anshary.


Akhir akhir ini nbanyak kalangan awam maupun intelektual yang sembrono, sembarangan bahkan ngawur menafsirkan Nash Al Qur’an. Mereka hanya bemodalkan logika atau akal semata tanpa didasarkan oleh pemikiran dan pemahaman ulama salah, sehingga menjadikan mereka sesat dan menyesatkannya. Dalam makalah ini akan dipaparkan metode dan cara ulama salaf dalam mengintrepretasikan Al Qur’an dengan benar. Diantaranya adalah:

HARI RAYA DALAM ISLAM

Oleh:  Ust. Ghaffar

Hari raya adalah saat berbahagia dan bersuka cita. Kebahagiaan dan kegembiraan kaum mukminin di dunia adalah karena Tuhannya, yaitu apabila berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala amalanya dengan percaya terhadap janji-Nya kepada mereka untuk mendapatkan anugrah dan ampunan-Nya Allah Ta’ala berfirman; “ Katakanlah dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” Katakanlah (Muhammad) “Dengan karunia Allah dan Rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan” (QS Yunus:58)

BID'AH DI BULAN RAJAB

Oleh : Ust. Mujahidin El Qudsy

Segala puji bagi Allah semesta. Shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah penutup kenabian dan keluarga serta sahabatnya hingga hari kiamat. Telah diketahui oleh umat islam bahwa bulan Rajab adalah termasuk bulan haram/mulia yang di informasikan oleh  Allah dalam firmannya:” Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu (QS At-Taubah:36)

ITTIBA' MANHAJ SALAF

Oleh: Ust Hamdan, S.Pd


Manhaj Salafush Sholihin dan kewajiban mengikutinya. Dari Abu Sa’id Al Khudry ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu mencaci maki sahabat sahabatku. Demi Allah yang diriku ada ditengah-Nya, seandainya salah seorang diantara kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, nilainya tidak mencapai satu mud yang diinfakkan mereka (para sahabat), bahkan setengahnyapun tidak”


PENGERTIAN SALAF
Secara bahasa “salaf” artinya sekelompok pendahulu atau suatu kaum yang mendahului dalam perjalanan. Jadi makna salaf adalah orang yang telah mendahului kalian baik itu nenek moyang maupun kerabat keluarga kalian, mereka di atas kalian baik dari segi umur maupun ataupun kebaikannya. Oleh karena itu, generasi pertama dari kalangan Tabi’in dinamakan “as-Shalafush Shalih (lihat kamus bahasa Arab: Taajul ‘Aruus, Lisaanul “Arab dan al Qaamuusul Muhuth: (bab Salafa).  Sedangkan salafus sholih menurut kalangan ulama aqidah: generasi permulaan Islam dari kalangan sahabat, tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in yang hidup di masa (tiga abad pertama) yang dimuliakan dari kalangan para imam yang telah diakui keimanannya, kebaikannya, kepahamanya terhadap as-Sunah dan keteguhannya dalam menjadikan as-sunnah sebagai pedonan hidupnya, menjauhi bid’ah dan dari orang orang yang telah disepakati oleh ummat tentang keimanan mereka serta keagungan kedudukan mereka dalam agama.


Allah berfirman, “orang orang yang terdahulu lagi yang pertama tama (masuk Islam) diantara orang orang muhajirin dan anshar serta orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allaha ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi  mereka surge surga yuang mengalir sungai sungai didalamnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS At-Taubah:100). Dari sahabat ‘Abdulah bin Mas’ud, Nabi Muhamad SAW bersabda “ Sebaik baiknya manusia adalah (orang yang hidup) pada masaku ini (yaitu generasi sahabat), kemudian yang sedudahnya (generasi Tabi’in) kemudian generasi yang sesudahnya (generasi Tabi’ut Tabi’in)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


WAJIBNYA MENGIKUTI MANHAJ SALAFUSH SHOLIH
A.      Dari Al Qur’an
Firnman Allah SWT berfirman “ Orang yang terdahulu lagi pertama tama (masuk Islam) dari orang orang Muhajirin dan Anshar dalam orang orang yang mengikuti merekas dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga surge  yang  mengalir sungai sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama lamanya, Itulah kemenangan yang besar” (QS At-Taubah:100) Ayat ini sangat tegas menunjukan wajibnya mengikuti jalan para Salaf dan bahwa orang orang yang mengikuti mereka dengan baik akan mendapatkan keridhaan dan mendapatkan pahala surga. Mereka ini menunjukan bahwa orang yang tidak mengikuti mereka akan mendapat siksaan dan tidak akan mendapatkan keridhaan.
Bahkan Allah  "Azza Dzikruhu mengancam orang orang yang menyelisihi jalan para salaf dalam firman-Nya: “Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenarann baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukminin, Kami biarkan  ia larut dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk buruknya tempat kembali” (QS An- Nisa:115)


B.       As-Sunnah
Dalam hadits  ‘Abdullah bin Mas’ud ra Nabi Muhammad SAW bersabda: “ Sebaik baiknya manusia adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya” (HR Al-Bukhari danb Muslim, Hadist ini adalah hadits  yang mutawir).  Hadits ini sangat tegas sekali menunjukkan keutamaan tiga generasi pertama dari umat ini yaitu generasi As-Salaf Ash-Sholih bahwa mereka adalah sebaik baiknya generasi yang pernah lahir dari umat ini. Dan Al- khairiyah (kebaikan) yang terdapat pada mereka adalah pada mereka ada pada semua sisi kebaikan dalam agama. Maka merekalah yang terbaik jalannya, paling dalam ilmunya, paling lurus pemahannyua paling sedikit salahnya dan yang paling mulia di sisi Allah SWT. Dan ini menunjukan wajibnya mengikuti jalan para ulama Salaf Rahimahullah.
Dalam Hadits  “Irbadh bin Sariyah ra beliau berkata ;” Nabi Shollallahu ‘ailai wa alaihi wasallam bersabda …. Karena sesungguhnya siapa yang hidup diantara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan kepada sunnah Al Khulafa” yang mendapat hidayah dan petunjuk.  Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi gigi geraham kalian….” (hadist solih dari seluruh jalan jalannya, sisholihkan oleh syeikh Al Albany dalam Zhilalul Jannah)


Lihatlah bagaimana  Rasulullah  Shollallahu ‘ alahi wa alihi wa sallam dalam kondisi perselisihan mengembalikan perselisihan tersebut kepada sunnahnya dan jalan para Khulafa’ Ar-Rasyidin yang senantiasa berada di atas sunnah dan petunjuk.  Maka digandengakannya sunnah beliau dengan jalannya para Khulafa’ Ar-Rasyidin ini menunjukan benarnya mereka dalam memahami sunnah Nabi Sollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam dan kita mengikuti jalan mereka.


C.      Ijma’
Berkata Ibnul Qoyyim:” Sesungguhnya senantiasa para ulama di setiap zaman sepakat dalam berhujjah, mereka mengambil perkataan dan perbuatan para shahabat dan tidak satupun mengingkari hal ini. Karangan karangan dan muhadharah muhadharah mereka menjadi bukti dari hal itu. Dan berkata sebagian ulama Al- Malikiyah:  Para ulama di setiap zaman sepakat mengambil apa apa yang dating dari shahabat di dalam berhujjah, hal ini terkenal dalam riwayat riwayat para kulama,  kitab kitab dan muhadharah serta pengambilan dalil dalil mereka yang selalu berpatokan dari perkataan dan perbuatan para shahabat” Baca Bashiur Dzawi Asy- Syaraf Binarwiyat Manhaj As-Salaf hal 77-78.


Berkata Imam Ahmad Rahimahullah: “pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh di atas apa yang para shahabat di atasnya dan mengikuti mereka”. Lihat Syarah ushul I’tiqod Ahlussunnah Wal Jama’ah 1/176. Dan ini juga diucapkan oleh “Ali Ibnul Madiny sebagaimana dalam Dzamumut Ta’wil


Subhat dan Jawabannya
Sebagian orang mengatakan bahwa mengikuti jalan para ulama salaf adalah taqlid. Dan taqlid itu terlarang dalam agama. Maka untuk menjawab syubhat ini kami nukilkan keterangan syeikh Sholih Al-Fauzan menjawab syubhat ini dalam kaset yang berjudul “ Al Qowa’id fii  Al-Minhaj” beiau berkata:”Taqlid bukanlah tercela secara mutlak, taqlid dalam kebenaran dan mengikuti pengikut kebenaran ini adalah perkara yang diperintahkan Allah Ta’ala berfirman tentang nabi-Nya Yusuf ‘alahissalan: “ Dan aku mengikut agama bapak bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub” (QS, Yusuf:38). Yusuf ‘Alahissalam  mengabarkan bahwa ia mengikuti orang yang sebelumnya tatkala mereka berada diatas kebenaran. Dan Allah ‘Azza wa Jalla hanyalah mencela mengikuti ayah ayah dan nenek moryang karena mereka berada di atas selain ilmu.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami”. ‘(apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapatkan petunjuk?”, (QS Al-Baqooh:170)


Mereka dicela karena mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapatkan petunjuk maka pemahaman ayat ini menunjukan bahwa orang yang mendahului kita, kalau mereka mengetahui dan memahami Al Qur’an dan As –Sunnah, mereka diikuti dalam hal itu.
Dan Allah Ta’ala berfirmanh: “Apabila dikatakan kepada mereka :”marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yuang kami dapati bapak bapak kami mengerjakannya.” Dan  apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa apa dan tidak (pula) mendapatkan petunjuk?” (QS Al-Maaidah:104)


Maka ini menunjukan bahwa orang yang mengetahui itu diikuti, yang tercela hanyalah siapa yang mengikuti orang yang tidak mengetahui. Maka Taqlid bukanlah tercela secara mutlak dan bukan pula boleh secara mutlak tapi ada rincian yaitu siapa yang diatas kebenaran maka ia diikuti dan ditaqliq dengan dalil apa yang datang dari Al Kitab dan As-Sunnah dari perintah mengikuti para ‘ulama shalaf dan mencontoh mereka (dan) siapa yang menyelisihi kebenaran tidak boleh diikuti dan di taqlid. Ini pemutus perselisihan dalam masalah ini.


Maka kami berkata: tiudak mungkin kita memahami  Al-Qur’an dan As-Sunnah kecuali dengan mengikuti manhaj salaf. Dan tidaklah mungkin seseorang datang di akhir dunia di akhir zaman lalu membuang manhaj Salaf dan menyangkna ia mengambil Al Kitab dan As Sunnah secara langsung. Ini adalah kesesatan dan memecah belah umat dan memutuskan hungan (generasi) belakangan dari (generasi) salafnya….”


                  Maroji’:
1.        Al Waajiiz fii aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis sunnah wal jama’ah)
2.        Bashoir dzawi Asy-Syaraf Bimarwiyat Manhaj as-salaf
3.        Syarah ushul I’tiqod Ahlussunnah Wal  Jama’ah
4.        I”la Al-Muwaqqi’in Jilid 4
5.        Limadza Ikhtaru Al-Manhaj As salafy

IKLAS

Oleh: Ust Hamdan, S.Pd


Setiap muslim tentu tak ingin ibadahynya sia sia. Kehati-hatian dalam melaksanakan ibadah sangat dibutuhkan. Setiap ibadah yang kita lakukan tidak serta merta disahkan oleh Allah danb diganjar dengan pahala. Meski urusan diterima atau ditolaknya ibadah termasuk perkara yang ghaib. Tetapi patut disyukuri karena Rasulullah telah menjelaskan criteria ibadah yang diterima. Pun sebaiknya, Rasulullah juga telah menggambarkan secara detai sebab sebab amalan itu bisa ditolah oleh Allah  Ta’ala.